[Movie Review] Atas Nama Trauma: Sebuah Kritik untuk Berbalas Kejam

 







[Movie Review] Atas Nama Trauma: Sebuah Kritik untuk Berbalas Kejam — Balas dendam dalam banyak hal sering kali dijadikan bahan bakar yang sempurna untuk menegakkan keadilan. Opsi balas dendam jadi tambah masuk akal ketika seseorang yang merasa mengalami ketidakadilan menyadari penuh, bahwa penegakan hukum tidak akan membawanya ke mana-mana. Darah dibalas darah adalah penegakan hukum yang ‘sesungguhnya’.

Mungkin begitulah yang dipikirkan oleh Adam, seorang arsitek yang tengah mengalami trauma hebat. Dua tahun lalu,  di hari ulang tahunnya, rumahnya malah dirampok. Anak dan istri Adam terbunuh di depan matanya. Nahasnya, seolah tak ada daya, Adam hanya menyaksikan itu semua tanpa bisa memberikan perlawanan. Hatinya hancur. Kejadian yang sudah berlalu begitu lama itu, masih terasa semenyakitkan itu, seolah baru terjadi kemarin (re-experiencing). Adam bahkan bisa merasa kehabisan napas hanya dengan mengingat anaknya yang saat itu dibekap, lalu mengembuskan napas terakhirnya.

Karena bayang-bayang kejadian itu masih bercokol kuat, bahkan mengganggu pekerjaan Adam, berdasarkan saran kawan baiknya, akhirnya lelaki itu memutuskan menemui profesional untuk mengonsultasikan keadaan psikisnya. Ia mengunjungi Amanda, psikiater yang konon punya track record bagus dan mencoba mengingat lagi kejadian traumatis itu dalam rangka ‘penyembuhan’. Namun, yang terjadi adalah menguatnya keinginan untuk membalaskan hal-hal yang menimpanya dulu. Pucuk dicita ulam pun tiba, Adam juga bertemu kembali dengan orang-orang yang diingatnya adalah pelaku pembunuhan anak istrinya. Tak sulit, cukup melihatnya dari tato ikan, kepala botak, dan ciri-ciri fisik yang identik dengan ketiga pelakunya.

 




Kaya Kesadaran, Miskin Empati

Selazimnya cerita yang mengusung trauma sebagai dasar dari tindakan karakter utamanya, maka proses pendampingan psikologi yang mumpuni sudah seharusnya menjadi elemen wajib dalam film ini. Tak heran, jika ada beberapa adegan terapi yang coba ditunjukkan antara Adam dan Amanda.

Sayangnya, baru pertama kali bertemu, kepada pasiennya Amanda langsung berucap, “Kalau mau menghadapi trauma, kita harus mengingat kejadian itu. So we can overcome this trauma.” Yang diucapkan Amanda mungkin penting karena memang seperti itulah yang terjadi saat akan memulai terapi. Bahwa kejadian yang menimpa seseorang bisa jadi bukan tanggung jawab orang tersebut, tetapi proses pemulihan trauma adalah tanggung jawab orang dengan trauma.

Namun, bagi orang seperti Adam dengan kejadian traumatis cukup mendalam, selalu merasa kesakitan atau sesak setiap mengingat kejadian kematian anak istrrinya yang tragis, harusnya Amanda tahu bahwa mungkin Adam bukannya tidak mau mengingat atau menceritakan detail peristiwa yang dialaminya. Adam justru merasa bahwa kejadian itu adalah satu-satunya ingatannya. Dari satu adegan saja, ucapan Amanda jadi terkesan kurang empati. Amanda seolah tergesa-gesa dan tidak membiarkan Adam untuk release traumanya pelan-pelan.





Yang Sepenggal-Penggal, Yang Luput dari Perhatian

Di lain kesempatan, saat terjebak macet, Adam menemukan kejadian yang cukup men-trigger-nya untuk melakukan tindak kekerasan. Amanda yang sempat bertemu Adam di sebuah swalayan dan terjebak kemacetan yang sama juga melihat kejadian tersebut. Saat berada pada sesi terapi berikutnya, Amanda lalu mengajak Adam untuk mendiskusikannya.

Dari obrolan singkat dalam terapi tersebut, penonton diberi gambaran bahwa Adam punya prinsip: keras harus dilawan dengan keras. Dan hal tersebut belum memudar sejak Adam berkonsultasi dengan Amanda. Lucunya, Amanda malah berpendapat, “Kadang dendam yang terbaik itu adalah ketika kita kuat melupakan.” Ucapan Amanda tersebut tidak salah, bahkan benar sebetulnya. Namun, jika tidak dibarengi dengan gambaran sesi konsultasi yang menyeluruh, ucapan itu justru adalah pemantik bagi tindakan yang lebih brutal.

Sesi terapi yang sepenggal-penggal semacam ini masih berlanjut. Di lain waktu, Amanda mengajak Adam untuk mengingat momen manisnya bersama anak dan istrinya yang telah tiada.

Sesuai dugaan, Adam tidak bisa menceritakan momen manis keluarganya. Ia hanya bercerita bagaimana pribadi anaknya yang ingin menjadi ‘tukang bangunan’ seperti dirinya. Ia juga jadi teringat bahwa hari itu seharusnya hari ulang tahun anaknya yang kesepuluh.

Hal ini bisa dibilang sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Elisabetth Kensinger yang pernah diterbitkan untuk Association for Psychological Science. Karena memiliki banyak memori dalam kepalanya, maka manusia cenderung tidak dapat mengingat dengan jelas momen manis yang pernah dialami. Sebaliknya, hanya bisa mengingat core memory atau bahkan peristiwa negatif.

Harusnya adegan kedua ini dapat dieksplorasi lebih mendalam. Tidak perlu sejenaka Riley’s memories dalam film Inside Out (2015) yang menampilkan betapa satu sentuhan emosi dapat mengubah ‘kesan’ terhadap memori yang tersimpan dalam kepala. Tapi cukuplah dengan mengatakan, adegan ini malah bisa jadi satu-satunya yang seharusnya mampu encourage karakter utamanya ke hal yang positif, yang seharusnya dilakukan di awal, sebelum Adam terlanjur balas dendam.





Bukan Mengelabui, Tapi Juga Bukan Plot Twist

Selain serangkaian aksi balas dendam yang mencekam dan tentu saja akting pemeran Adam yang totalitas, tidak banyak yang bisa diunggulkan dari segi cerita dalam film ini.

Penonton terlalu sering diberi ketiba-tibaan. Misalnya, tahu-tahu disuguhi kondisi Adam yang membaik. Adam mulai bekerja kembali. Rumahnya terlihat bersih, tidak seperti sebelumnya. Bahkan, Adam dan Amanda diceritakan mengakhiri hubungan sebagai pasien dan dokter dan mulai menjalani hubungan romantis.

Lucunya, Amanda yang mulai dekat dengan Adam, terkesan luput mencari tahu penyebab dari membaiknya kondisi mantan pasiennya. Sesuatu yang bila tidak diisi atau dijabarkan, akan menjadi lubang dalam cerita.

Atau jika kedekatan keduanya dianggap menjadi pengantar bagi sesuatu yang disebut-sebut sebagai plot twist di dalamnya, maka usaha tersebut bisa dibilang belum cukup berhasil. Seperti yang kita tahu, plot twist adalah teknik memelintirkan plot untuk mengejutkan penonton dengan sesuatu. Meski berupa kejutan, kehadirannya tetap harus didahului dengan semacam clue, entah elemen cerita yang terlihat seolah tidak penting atau sebuah kilas balik peristiwa yang mendahuluinya.

Dalam kasus film ini, plot twist yang coba dihadirkan adalah seorang karakter antagonis yang ternyata masih punya hubungan darah dengan Amanda. Jadi, jika Adam harus membalaskan dendam, maka ia juga harus melukai orang yang dekat dengan Amanda.

Sayangnya, plot twist tersebut berjalan tanpa meninggalkan kesan apa-apa. Penonton dibuat terkejut tapi setelahnya tidak ada perasaan khawatir atau ingin mencegah Adam membalaskan dendam. Tentu saja karena remah-remah clue untuk hal itu belum tertabur dengan baik di awal cerita dan penonton dipaksa menerimanya saat itu juga.


Baca Juga: [Book Review] Yang Biasa Saja dalam Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson (The Subtle Art of Not Giving A Fuck)


Sungguh tak mudah menjelaskan trauma. Cerita yang kompleks yang bahkan ditunjang dengan kemegahan efek pun tidak selalu bisa menjelaskannya. Sebab, trauma hadir dari pikiran dan ketakutan manusia dan kita semua selalu ingin lari darinya. Namun, jika sudah hadir dalam format film, kita bisa dibilang hampir bersepakat bahwa penonton bukan ingin melarikan diri. Mengutip perkataan J. Andrew Schrecker, “General audiences may want escapism but what they need is catharsis.”

 

Judul: Berbalas Kejam (2023)
Durasi: 109 menit
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Penulis: Teddy Soeriaatmadja, Rayya Makarim
Produser: Baim Wong, Teddy Soeriaatmadja
Perusahaan Produksi: Tiger Wong Entertainment, Karuna Pictures
Pemeran: Reza Rahadian, Laura Basuki, Baim Wong, Yoga Pratama, Kiki Narendra
Ditonton di: Prime Video



0 Komentar