[Book Review] Memaafkan Masa Lalu: Review Novel (Bukan) Salah Waktu







Cinta terkadang memang sesederhana memaafkan masa lalu…

Novel (Bukan) Salah Waktu Karya Nastiti Denny



Penulis : Nastiti Denny
Penyunting : Fitria Sis Nariswari
Penerbit : Bentang Pustaka Populer
ISBN : 978-602-7888-94-4
Harga : Rp46.000,-

Setiap orang punya masa lalu. But, hell, tidak setiap orang bisa menerima masa lalu orang lain.
Sialnya, menikah tidak pernah seindah pacaran. Sekat-sekat yang tadinya membatasi setip pasangan akhirnya terbuka dan tampaklah segala hal tentang diri kita, mulai dari watak, kebiasaan, dan hal-hal yang mungkin terlihat sepele lainnya. Masa lalu menjadi bagian tak terkecuali.
Novel (Bukan) Salah Waktu yang merupakan naskah pilihan dari lomba menulis novel “Wanita dalam Cerita” ini berkisah tentang seorang wanita bernama Sekar. Sekar memutuskan untuk resign dan fokus menjadi wanita ‘seutuhnya’ setelah menikah dengan Prabu. Ia bahkan berencana akan mengambil kursus memasak atau merangkai bunga supaya suaminya dan mertuanya terkesan dengan dirinya.
Prabu sendiri tergolong suami yang 'terbuka’ dan mendukung setiap keputusan Sekar. Ia yakin, istrinya pasti telah memikirkan segala sesuatunya masak-masak. Apa pun yang dilakukan Sekar pastilah yang terbaik.
Segalanya baik-baik saja. Prabu dan Sekar menempati rumah baru dan hidup normal layaknya pasangan yang berbahagis. Sampai akhirnya, masa lalu keduanya terkuak, muncul ke permukaan dengan sendirinya.
Prabu terkejut bukan main ketika mengetahui bahwa orang tua Sekar sudah lama tidak bersama. Tepatnya, bercerai. Sekar juga seperti disetrum listrik jutaan volt ketika mengetahui seseorang dari masa lalu suaminya tiba-tiba hadir, menuntut pertanggungjawaban. Pada akhirnya, masing-masing tidak bisa menyalahkan waktu. Keduanya masih punya waktu yang disebut 'masa kini’ untuk menentukan bagaimana masa depan rumah tangga mereka…


Antara Detail dan Keindahan


Aku suka dengan cara Nastiti Denny menjabarkan setting rumahnya. Begitu detail dan terasa visual. Rumah mungil dua lantai itu terkesan bagus dan sesuai dengan latar pekerjaan dan sosial ekonomi karakternya.
Tidak hanya soal latar tempat, Nastiti juga detail dalam hal menjabarkan latar waktu. Berkali-kali dapat ditemui frasa “pukul sekian-sekian-sekian” dalam novelnya (Bukan) Salah Waktu.
Karena bahasa yang digunakan lugas dan mengalir, sejauh ini detail-detail tersebut cukup tergambarkan dengan baik. Hanya saja, ketika membacanya, aku merasa unsur “indah” dalam setiap narasinya kurang tergali dengan baik.


Tokoh yang Datang dan Pergi

Begitu mengetahui fakta masa lalunya, jujur rasanya benci banget dengan Prabu. Sama seperti perempuan lainnya, aku jelas akan marah dan merasa dibohongi. Bahkan, di kepalaku sempat terlintas, perceraian adalah solusi yang tepat bagi Sekar.
Sayangnya, ketika alur memuncak, diikuti emosi yang meningkat, Sekar tiba-tiba digambarkan sebagai dewi. Ia bisa dengan mudah memaafkan masa lalu Prabu.
Selain itu, kehadiran beberapa tokoh seperti Seno dan Laras terlihat “cepat datang dan cepat pergi”. Seno digambarkan sebagai orang jahat yang membuat ayah Prabu menjadi tertuduh sekaligus membuat Prabu seolah memiliki dosa besar terhadap keluarga Laras.
Kedekatan Sekar dan Bram juga digambarkan terlalu instan. Bagaimanapun juga proses jatuh cinta (dari sisi Bram) tentu tidak akan semudah itu. Bram sebagai pihak di luar hubungan percintaan Prabu dan Sekar juga kemudian “terlihat mendadak menjadi hero” lantaran berhasil mengungkap kebenaran dari kasus sengketa tanah yang melibatkan ayah Prabu.


Perhatian-Perhatian Kecil


Di luar itu semua, aku mempunyai satu adegan favorit, yaitu saat Prabu memasuki rumahnya dan tidak menjumpai Sekar di sana. Lelaki itu menuliskan beberapa note dan menempelkannya ke beberapa perabot yang berkaitan dengan isi note. Misalnya:
Kalau pakai lipstik yang merah hati mending dicampur sama yang warna bibir. Biar nggak terlalu mencolok.
Note itu dituliskan oleh Prabu dan ditempelkan di meja rias Sekar.
Adegan yang sederhana and how sweet! Perempuan mana pun akan tersenyum jika diperhatikan seperti itu.

Well, begitulah perempuan. Mereka lebih menyenangi perhatian-perhatian kecil, tapi dilakukan dengan frekuensi tinggi daripada mendapat surprise besar, namun hanya dilakukan sesekali. Jadi, rasanya tidak berlebihan jika novel (Bukan) Salah Waktu karya Nastiti Denny ini tergolong bagus dalam menggambarkan perempuan dengan segala aspeknya.










**Pernah di-post di asya-azalea.tumblr.com pada June 15th, 2014 11:46pm dan dipindahkan ke blog ini.

0 Komentar