[Book Review] Makamkan Ibu di Samping Ayah, Novel Perdana Kalis Mardiasih

Kita mungkin tidak asing lagi dengan nama Kalis Mardiasih. Sosoknya dikenal lantang dalam menyuarakan isu-isu tentang perempuan dan kesetaraan gender, terutama dari sudut pandang feminis muslim.

Secara pribadi saya belum pernah bertemu dengan Mbak Kalis, tapi pernah satu "panggung" bersama suaminya, Mas Agus, di tahun 2019. Waktu itu saya masih jadi tukang hore-hore di Cabaca.id--barangkali masih ada yang inget platform baca novel lokal dari Yogyakarta tersebut.

Sejujurnya, ini kali pertama saya membaca buku karya Mbak Kalis. Saya belum pernah baca bukunya yang lain, kecuali tulisan dan pemikirannya di media sosial maupun platform online. Saya bisa dibilang menaruh sedikit ekspektasi, tapi ya tidak berharap banyak, mengingat halamannya saja terbilang tipis untuk sebuah novel. Hanya 142 halaman saja. Tapi novel tipis begini biasanya cocok untuk dibaca saat reading slump atau saat dalam perjalanan. 





Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah, Tentang Apa?

Jika hanya boleh menyebutkan satu kata atau frasa, maka saya akan bilang novel ini tentang intergenerational trauma atau trauma lintas generasi. Ini bukan hal baru di era kesehatan mental yang mulai mendapat sorotan seperti sekarang. Hampir setiap orang, mulai dari generasi milenial hingga generasi penerusnya, telah menyadari kemungkinan adanya luka psikologis atau emosional dari orang tua atau nenek kakek yang berdampak dan menurun ke anak-cucu. Luka ini menimbulkan banyak sekali ketidakstabilan mental, mulai dari susah meregulasi emosi, sering merasa cemas, tidak percaya diri, tidak merasa aman, dan seterusnya.

Trauma lintas generasi ini juga mengingatkan saya pada obrolan dengan seorang kawan. Dia bilang, suaminya berpendapat, "Jika semua orang pergi ke psikiater, mungkin semua orang akan punya penyakit mental." Kawan saya cenderung tidak setuju dengan pendapat tersebut. Tapi, anehnya, saya tidak 100% tidak setuju. Yang dikatakan suami kawan saya bisa jadi benar. Jika satu keluarga saja menimbulkan luka psikologis dalam diri seseorang, lalu seseorang itu menikah dan punya keturunan, maka dia bisa saja menciptakan luka psikologis baru terhadap anak cucunya. Apalagi, jika seseorang itu belum punya kesadaran mental untuk mengakui sesuatu yang tidak beres dalam dirinya.

Jika merunut banyaknya stigma, anggapan, atau "celetukan" generasi sebelumnya, generasi kita bisa jadi adalah generasi yang tidak beres. Semuanya, tanpa terkecuali. 

Balik lagi ke isi novel. Novel perdana Kalis Mardiasih ini bercerita tentang seorang ibu bernama Indah, yang tiba-tiba menyebutkan permintaan terakhir kepada ketiga anaknya: ingin dimakamkan di samping makam mantan suaminya.

Ketiga anak Bu Indah, yakni Aji, Vikra, dan Lini, otomatis terkejut luar biasa. Ia tak mengira, ibunya yang selama ini dianggap sosok independen menjurus superhero tersebut, malah ingin samping-sampingan dengan ayahnya yang mereka anggap pemalas dan pecundang.


Kakak Beradik Mengupas Misteri

Berangkat dari keinginan "terakhir" Bu Indah, cerita dalam novel ini berjalan. Awalnya lumayan smooth karena menyodorkan berbagai macam point of view (POV). Oya, novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga sehingga pembaca seolah-olah diminta untuk "netral" dan bisa menyimpulkan sendiri.

Reaksi Aji sebagai anak pertama tentu marah. Baginya, ayahnya adalah pecundang yang pergi meninggalkan keluarga lantaran tidak bisa memberi nafkah yang layak. Sementara sang ibu baginya adalah sosok yang tangguh sekaligus keras. Dalam beberapa kesempatan, penulis menampilkan beberapa ucapan Bu Indah yang terkesan "merendahkan" Aji. Puncaknya terjadi saat Aji diminta oleh ibunya ini untuk menyampaikan keinginan terakhirnya pada istri baru ayahnya atau ibu tirinya, Bu Santi. Aji tidak terima mengapa harus dia lagi yang menjadi tameng dan diminta maju.

Berbeda dengan reaksi Aji, anak kedua Bu Indah cenderung menarik diri, Vikra. Laki-laki itu terlihat tidak merespons apa pun terhadap keinginan Bu Indah, tidak dalam obrolan grup WhatsApp ataupun lainnya. Orang lain mungkin mengira, Vikra adalah anak yang paling tidak peduli dan hidup semaunya sendiri. Yang orang tidak sadari, Vikra ternyata membawa masalah baru ke dalam jalan cerita, yang menurut saya pribadi merupakan buah dari apa yang disimpannya selama ini. Bisa dibilang, Vikra adalah si pemegang clue.

Nah, beda lagi sama anak terakhir Bu Indah yang bernama Lini. Sama-sama perempuan, jadi dibuat seolah terkesan yang paling bisa memahami Bu Indah. Meski begitu, itu tidak membuat dia tidak punya trauma. Seperti kebanyakan anak terakhir, Lini sering menjadi "tempat sampah" bagi apa pun yang dirasakan dan dikeluhkan Bu Indah. Lini juga bisa dibilang gambaran dari perempuan fatherless yang hanya punya sedikit kenangan baik bersama ayahnya, dibandingkan kakak-kakaknya. Di sini, Lini cenderung bisa berkepala dingin. Ia tidak buru-buru menolak keinginan ibunya dan bahkan cenderung berusaha mengupas misteri, mengapa sudah menjadi mantan suami, kok malah mau dimakamkan di sana--dalam cerita di Ungaran? Meski begitu, saya pribadi saya cukup terkejut saat tahu Lini yang di awal terkesan logis, ternyata juga suka menebak-nebak dan menjadikan ChatGPT sebagai jalan ninja, wkwk. 


Tentang Clue dan Plot yang Terasa Makjegagig

Secara plot, cerita yang ditulis oleh seseorang yang juga dikenal aktivis ini okelah. Premisnya bisa diterima dan bikin pembaca ingin tahu kelanjutannya. Hanya saja, layaknya sebuah misteri, kita sebagai pembaca tidak bisa menangkap ujungnya jika tidak ada clue dari penulis. Buat saya, remah-remah yang ditaburkan penulis sebagai clue masih cukup berantakan.

Clue hanya disisipkan ke dalam beberapa adegan flashback yang melibatkan Vikra, anak kedua Bu Indah. Kalau Vikranya buka suara alias ngaku, barulah kita semua tahu. Tapi kan Vikranya mingkem, gak mau ngomong, berarti ini secara plot akan mengejutkan dong? Iya betul, maka ini ada kaitannya dengan plot. Jika clue disisipkan hanya di satu titik, tidak disebar layaknya remah-remah roti, maka ya sudah kita rasanya seperti hanya mendapatkan satu wangsit dari langit. Tidak ada sensasi menebak-nebak. Tidak ada perubahan emosi yang signifikan.

Efeknya plotnya cenderung datar. Sesuatu yang disangka penulis sebagai klimaks jadi mungkin akan ditanggapi pembaca dengan, "Oh" bernada datar. Kita akan terkejut, tapi gak seterkejut itu juga. Apa ya, rasanya seperti menerima pengakuan aja gitu. Akibatnya, geger masalah yang terjadi setelahnya pun jadi seperti uraian adegan saja. Tanpa emosi. Jauh dari katarsis.

Kalau saya jadi editornya, kemungkinan saya akan minta draf naskah awalnya direvisi, ditambahi adegan, dan diperbanyak jumlah halamannya, hehehe.


Tidak Ada Keluarga yang Sempurna

Terlepas dari pembacaan saya--yang jujur masih seperti editor akuisisi naskah seperti sebelum-sebelumnya wkwk, saya mengapresiasi betul cerita yang berusaha ditampilkan Mbak Kalis bahwa tidak ada keluarga yang sempurna. Tidak harus dalam cerita keluarga broken home kayak dalam novel ini ya, saya yakin banyak keluarga yang terlihat baik-baik saja juga tidak selalu baik. Selaras dengan itu, tidak ada manusia yang sempurna. Saat seseorang tampil sempurna pun, kita tidak pernah tahu kerapuhan apa yang ada di baliknya. 

Di novel ini pun saya belajar bahwa keretakan dalam rumah tangga tidak selalu bersumber dari suami atau laki-laki. Kesalahannya selalu datang dari dua arah. Kita sebagai istri juga kadang-kadang merasa bisa meraih banyak hal sendiri, menuntut emansipasi, tetapi lupa untuk tidak merendahkan manusia.

Kita semua bisa merasakan cinta karena kita manusia, bukan?

Sebagai penutup, ini dia beberapa kalimat bagus yang aku kutip dari isi novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

  • Seperti kebanyakan manusia di Indonesia, mereka menyukai pulang.
  • Seorang perempuan, entah mengapa, selalu memiliki ruang untuk memaafkan laki-laki.
  • Nggak semua keputusan manusia harus disesuaikan dengan kebutuhan kalian para pencari pembenaran. Ya, PEM-BE-NA-RAN, bukan kebenaran.
  • Memangnya hidup Ibu cuma buat anak-anak? Memangnya Ibu tidak boleh melihat dunia di luar cangkang yang disebut rumah?



0 Komentar