Kamu Harusnya Bersyukur... Mengapa Narasi "Beruntung" Ini Amat Kita Sukai?



We all know, we hate helplessness feeling. Saat mengalami sesuatu yang menyakitkan, kegagalan, atau saat masuk dalam situasi yang susah diubah (seperti sakit, kehilangan, atau dinamika hidup yang berat), kita mungkin akan selalu mencari-cari cara untuk menoleransi perasaan itu. Saat masuk dalam kondisi powerless, otak kita pun langsung menganggapnya sebagai ancaman, yang sering kali mengundang kecemasan, rasa tertekan atau stres, dan penurunan motivasi yang menyakitkan.

Tapi ... kenapa harus dengan narasi "beruntung"? Dan lagi, apakah itu cara terbaik untuk memulihkan keadaan?


Mengapa Pakai Narasi "Beruntung"?

Ada banyak hal yang bikin kita gemar mengingat-ingat keberuntungan dalam hidup kita. 

Pertama, mencari aspek "beruntung" dalam hidup kita adalah cara tercepat untuk reframing (membingkai ulang) persepsi agar merasa masih memiliki kendali atau makna atas hal tidak nyaman yang dialami. Saat banyak hal terjadi begitu cepat, sekelebat mata, kita merasa tidak punya lagi kontrol. Dengan mengingat hal-hal baik yang pernah kita miliki atau kita lalui, kita jadi beranggapan bahwa hal yang terjadi saat ini adalah sementara. Kita merasa: "Oh, sebentar lagi, keberuntungan ini mungkin akan datang lagi."

Kedua, bagi orang lain yang melihat penderitaan orang di sekitarnya, narasi "beruntung" sering dipakai karena mereka tidak mampu atau tidak mau menampung emosi "kurang menyenangkan" dari orang lain. Mendengarkan orang lain berduka, marah, atau merasa terluka itu memang membutuhkan kapasitas emosional yang besar. Jadi, mengatakan: "Tapi kan kamu masih beruntung..." adalah cara instan untuk menutup percakapan agar situasi tidak terasa berat, tanpa harus repot-repot dan tulus memberikan empati.

Orang tua atau generasi terdahulu juga sering pakai narasi ini untuk memvalidasi penderitaan mereka sendiri. Ketika mereka berkata: "Kita beruntung masih bisa seperti ini ... ", itu adalah cara mereka menuntut pengakuan dari sekitar bahwa penderitaan mereka adalah yang paling dramatis dan paling patut dihormati.

But, unfortunately. kita tidak bisa selamanya pakai narasi "beruntung" ini. 

Bayangkan, jika ketemu seseorang sedang terluka, lalu diberi ucapan: "Kamu harusnya bersyukur/beruntung, orang lain lebih menderita", orang tersebut mungkin bisa memaknainya sebagai:

"Rasa sakitmu tidak valid, kamu tidak boleh komplain dan tidak berhak merasa sedih." 

Alih-alih menghibur, kata-kata semacam itu justru mematikan emosi mereka.

Dalam beberapa kasus, narasi "beruntung" sering kali lahir dari proses membanding-bandingkan. Kita mungkin akan mengambil komparasi diri dengan orang yang bernasib "lebih buruk". Padahal, empati dan penyembuhan tidak bekerja dengan cara mengukur skala penderitaan. Mengabaikan luka diri sendiri hanya karena "orang lain lebih parah" tidak akan membuat luka itu sembuh. Salah-salah, luka yang kita rasakan malah makin parah.

Lebih parahnya, jika narasi "beruntung" ini dijadikan alat manipulasi (gaslighting). Dalam sebuah keluarga, kita mungkin pernah mendengar kalimat: "Kamu masih beruntung dibesarkan atau diberi ini-itu." yang dipakai untuk menutup-nutupi kesalahan, caci maki (abuse), atau tiadanya permintaan maaf. Ini seringnya membuat korban merasa bersalah (guilt-trip) saat berusaha jujur dengan emosi yang dimilikinya.

Ada satu kasus di Thread dari akun @yurizaltrich yang mengeluh tidak mendapat kamar di RS karena pasien BPJS. Si almarhum Yurizal ini barangkali hanya butuh tempat mengeluh, tapi akunnya malah mendapat banyak komentar tidak baik. Ada yang bilang masih untung 8 jam karena ternyata ada yang menunggu sampai seharian. Bahkan ada yang bilang, "Kalau mau dapat kamar kosong, masih ada kamar jenazah." Sayangnya, Yurizal kemudian meninggal karena terdapat kelalaian dalam penanganan. 

Artinya, narasi "beruntung"-nya bukan cuma dijadikan alat manipulasi, bahkan diduga sering dipakai untuk menutupi kegagalan sebuah sistem. Alih-alih bersama-sama mengkritik layanan kesehatan yang lambat atau sistem rujukan yang menumpuk, masyarakat justru saling berkompetisi memamerkan siapa yang paling lama menderita. Betapa kita sebagai masyarakat sudah "terbiasa" dan mati rasa terhadap pelayanan publik yang buruk, kita normalisasikan kebobrokannya, hingga kelambatan fatal dianggap sebagai hal yang wajar dan harus diterima dengan pasrah.


Narasi "Beruntung" yang Mungkin Masih Berguna

Tidak pernah ada yang meminta hidup dengan kondisi kurang nyaman. Beberapa dari kita mungkin akan mencari perlindungan, entah itu dengan menyalahkan sesuatu atau orang-orang di luar diri kita atau malah menyalahkan diri sendiri. Saat hal buruk terjadi, kita yang hanya manusia biasa, punya kecenderungan untuk menyesali. "Andaikan aku pilih itu, mungkin ini tidak akan terjadi."

Lagi-lagi. ternyata ada banyak sekali hal yang terjadi di luar kuasa kita sebagai manusia.

Mekanisme mencari-cari perlindungan pada akhirnya menjadi sebuah "konsekuensi logis" yang kita terima. Jadi, sah-sah saja sebenarnya menggunakan narasi "beruntung" untuk melindungi diri sendiri. Narasi ini juga memberi harapan, kekuatan, dan penghiburan tersendiri.

Hanya saja, gunakan ia bukan untuk menutupi luka. Tetaplah, akui dulu luka yang hadir dalam diri kita. Kita mungkin  baru bisa merasa "beruntung atas banyak hal" setelah mengakui dan memvalidasi dulu rasa sakit hati yang datang. Sebisa mungkin, kita tidak melompati langkah grief (rasa sedih/kecewa)-nya.

Narasi "beruntung" juga masih berguna sebagai pengingat rasa cukup, bukan persaingan. Ucapkan untuk diri sendiri, untuk perbandingan internal, tidak ditujukan kepada siapa pun dan apa pun di luar sana. Pada dasarnya, saat narasi ini dipakai dengan penuh kesadaran, bukan bahan sindir-menyindir di media sosial. perlahan-lahan kita akan bertemu dengan hal-hal kecil yang membuat batin damai.

Bukankah rasa tenang adalah keberuntungan terbesar dalam hidup?





4 Komentar

  1. Hmmm iya ya narasi beruntung malah jd bahan adu nasib juga 😫 suka banget sama tulisannha kak! Terima kasih uda nulis ini 🥰

    BalasHapus
  2. Banyak setujunya sama Kak Asya. Sial atau beruntung adalah kacamata, dan kita bisa timbang-timbang dulu perlu pakai kacamata itu di kondisi yang mana, bukan semuanya pukul rata 🥳

    BalasHapus
  3. bagus banget kak tulisannya 😭✨

    BalasHapus
  4. tulisan kak Asya rasanya bikin aku pengin langsung ambil pena dan ngejournal perasaanku tentang 'narasi bersyukur ini. anw, aku suka sekali opini kakak bahwa narasi beruntung ini memang sering banget jadi alat paling gampang yet paling bebal untuk melawan sistem yang sebenernya banyak jeleknya.

    BalasHapus