[Event] Berkarya dan Menerbitkan Karya di Era Digital: Rangkuman Talkshow Indie Book Corner, Lion Parcel, dan Cabaca


Talkshow Indie Book Corner, Lion Parcel, dan Cabaca pada 19 Januari 2019



[Event] Berkarya dan Menerbitkan Karya di Era Digital, Rangkuman Talkshow Indie Book Corner, Lion Parcel, dan Cabaca--Di era digital ini, mengapa kita masih perlu menulis? Mengapa kita masih harus berkarya? Perbincangan panjang bersama Windy Ariestanty dan Irwan Bajang pada hari Sabtu, 19 Januari 2019 lalu, dibuka dengan pertanyaan sederhana ini. Jawaban dari pertanyaan tersebut jelas beragam dan tidak ada yang salah. Sebuah pertanyaan yang dimunculkan oleh sang moderator, Mas Cahyo (editor Indie Book Corner) berhasil membawa sebuah kontemplasi tersendiri.

"Menulis adalah bagian dari pencatatan," ungkap Windy Ariestanty. Kegiatan menulis sudah dilakukan sejak dahulu, mulai dari lempeng batu, di dinding-dinding, lembaran daun, hingga akhirnya kertas ditemukan. "Mereka yang menulis adalah mereka yang meninggalkan jejak dalam peradaban," lanjut Windy.

Pernah membayangkan bila di dunia ini tidak ada pencatatan? Tentu saja kita jadi sulit mengetahui apa yang terjadi dahulu kala bila tidak ada pencatatan. Pun kita akan sulit mendapatkan perbandingan dan relevansinya untuk kehidupan kita saat ini atau di masa depan. Kalau Mbak Windy bilang, tulisan kita adalah legacy. Jika gak ada buktinya, gak ada tulisannya, segala sesuatunya bisa terbantah dengan mudah.

Di era digital, kegiatan pencatatan lebih mudah terfasilitasi. Siapapun bisa menulis dengan mudahnya. Nulis status Facebook? Tinggal ambil smartphone, buka aplikasi Facebook, ketik satu-dua kalimat, unggah deh. Kamu udah menulis lho itu, udah mencatat. Suka menulis dengan ribuan kata? Gampang. Bikin aja blog kayak gini. Cuma modal email, bikin akun, ketik bentar, upload. Selesai. Gagasanmu tercatat dengan mudahnya.

Seharusnya, perkara menulis jadi lebih mudah kan? Banyak temennya juga. Seperti yang sudah pernah saya bahas di tulisan saya yang lampau, everybody writes. Semua orang menulis. Semua orang melakukan pencatatan. gak cuma kamu.

Baca Juga: [Event] Menulis Novel di Era Digital: Sebuah Kemeriahan Acara Sharing dan Mini Gathering Penulis Cabaca.id



Media Adalah Display

Masalahnya adalah, meminjam istilah Mbak Windy, semesta digital ini sudah terlalu riuh. Bagaimana caranya, dari jutaan konten yang ada di dunia ini, membuat tulisan kita ditemukan? Bagaimana caranya supaya gagasan kita ini dibaca? Perkara menulis bukan lagi soal kegiatan menulis itu sendiri, melainkan pada apa yang kita tulis benar-benar tersampaikan kepada pembaca yang tepat.

Karena itulah, penulis butuh strategi. Bagus secara teknik saja nggak cukup di era digital. Setiap penulis harus memahami audience-nya dan tema-tema menarik apa yang dapat disuguhkannya. Seorang penulis bahkan dapat menggali ide dan tema menarik lewat dunia digital, misalnya media sosial.

Selain itu, kejelian memilah-milah media yang akan digunakan sebagai display karya penulis pun dibutuhkan. Sebenarnya hal ini berlaku di semua jenis industri, baik industri penerbitan digital maupun platform digital. Memahami kesesuaian karya dan konsep industri yang dituju serta memahami karakter pembaca dari media tersebut adalah kewajiban bagi penulis.

Misalnya di Cabaca. Sedari awal, Cabaca memang membuka dirinya sebagai salah satu platform baca dan penerbitan digital di Indonesia. Dari situ sudah jelas bahwa Cabaca merupakan platform 'rasa penerbit mayor'. Artinya, tidak seperti platform lain, ada seleksi dan proses editorial di dalamnya. Ada proses belajar bersama-sama dan latihan. Untuk karakter pembacanya, dapat dilihat dari penggunanya atau bahkan bisa dicermati dari komentar yang masuk di tiap bab sebuah karya yang ada di dalamnya.

Nah, untuk yang ingin jadi penulis Cabaca, silakan boleh pantau terus media sosialnya atau klik di sini.

Baca Juga: [Book Review] Novel Partner in Crime di Cabaca.id (+Bonus Story Behind Cabaca.id)


Peperangan Tak Kasatmata yang Diada-Ada

Sudah sering mendengar pertanyaan: pilih mana, buku cetak atau e-book? Sama, saya juga. Lalu, ending dari pertanyaan tersebut biasanya adalah semacam 'peperangan'. Sekadar beda pendapat, masih okelah ya. Beda pendapat yang saya maksud, misal soal kenyamanan, mata minus, bau kertas (yang ini rada sentimental sih alasannya), dan seterusnya. Tapi lebih banyak yang saya temukan ialah shaming, terutama terhadap buku-buku yang terbitnya dalam bentuk digital. Banyak yang menganggap bahwa konten buku digital tidak lebih baik daripada buku cetak.

Sebenarnya, saya sudah cukup terbiasa mendengar ini. Setiap kali saya berusaha meyakinkan orang-orang bahwa cetak dan digital hanyalah perkara medianya saja, saya mendapat penolakan. Tidak hanya dari orang per orang, pembaca atau penulis saja, tetapi juga dari pelaku industrinya sendiri.

Dalam era peralihan semacam ini, saya maklum jika masih lebih banyak orang yang 'belum percaya' dengan buku digital. Kebanyakan sih hanya karena habit aja, karena belum terbiasa. Saya pun demikian. Awal-awal mengonsep Cabaca, saya juga masih menganggap bahwa buku cetak adalah yang terbaik. Tidak ada tandingannya. Sampai suatu ketika saya takjub dengan diri saya sendiri. Saya bisa menamatkan buku nonfiksi berbahasa Inggris yang bentuknya e-book. Saya membaca lebih cepat jika formatnya e-book. Saya juga menamatkan banyak webcomic dan merasa terhibur karenanya. Tidak heran sih, dengan adanya e-book saya bisa membaca lebih banyak di mana saja dan kapan saja. Gak perlu bawa berat-berat. Lagi meeting dan mobile ke mana-mana pun bisa tetap baca. See?

Lalu saya menyadari bahwa yang saya butuhkan, sebagai pembaca, bukanlah medianya, melainkan isi atau kontennya. Itu yang saya butuhkan. 

Dan apakah ini peperangan?

Hehehe, kembali lagi. Siapa yang sedang berperang?


Sebagai platform digital, kami tentu saja tidak pernah mengajak berperang. Ini bukan peperangan. Ini hanyalah sebuah tawaran. Sebuah jalur baru. Sebuah alternatif bagi siapa saja yang ingin berkarya untuk menghadapi era baru bernama era digital (sesuatu yang mutlak dan menjadi bagian dari peradaban). Kami bahkan terbuka bagi penerbit yang ingin mencoba jalur digital, tetapi belum punya wadah untuk terjun di dalamnya. Saat post ini diterbitkan, sudah ada dua penerbit yang bersedia Cabaca ajak berkolaborasi, yaitu Indie Book Corner dan Penerbit Koru (grup Penerbit Haru).

Saya sepakat dengan Mbak Windy bahwa yang harusnya kita perangi adalah kebodohan, sikap malas membaca, dan oknum yang bakar-bakar buku seenaknya. Saya sepakat jika yang harusnya dilakukan industri penerbitan, baik cetak maupun digital adalah bersama-sama meningkatkan minat baca (meski begitu, minat baca yang katanya rendah pun saya rasa perlu ditinjau kembali sebab indikatornya harusnya tidak hanya dari yang cetak). Mungkin kapan-kapan saya akan menulis khusus di blog ini soal minat baca.

Dan lagi, saya kok yakin, semua platform digital punya visi yang sama, yakni membuka akses baca dan keterjangkauan bacaan dengan seluas-luasnya. Tinggal kontennya saja yang pelan-pelan perlu diperhatikan (dan saya rasa sudah dilakukan semua platform).





Nasib Buku Cetak

Lantas, bagaimana dengan nasib buku cetak? Ini adalah salah satu pertanyaan menarik yang muncul dalam acara talkshow "Menulis dan Menerbitkan Karya di Era Digital" yang disponsori oleh Lion Parcel di kafe Medpresso, Yogyakarta.

Nasibnya ya gak bagaimana-bagaimana. Sekali lagi, ini bukan peperangan. Saya percaya, setiap jalur memiliki peminatnya sendiri. Saya pribadi sekalipun merintis platform baca novel online, juga tetap membeli novel cetak. Biasanya yang saya beli adalah novel karya penulis Indonesia, terutama karya rekan-rekan penulis yang kebetulan saya kenal. Saya juga tetap membeli beberapa buku yang saya rasa cocok dijadikan item koleksi. Selain itu, saya membeli versi e-book dari buku-buku yang cetaknya sulit saya temukan (FYI, e-book harganya bisa jauh lebih murah) atau buku-buku yang saya rasa enak buat dibaca sambil nongkrong di WC, hehehe.

Dari beberapa yang saya tahu, novel cetak Aroma Karsa karya Dee Lestari juga penjualannya masih fantastis meski didahului terbit dalam bentuk digital. Jangan salah juga, pembaca digital yang berhasil dijaring Dee setahu saya mencapai 2.000 pembaca--jumlah yang cukup fantastis juga untuk pembaca digital dan berbayar.


Baca Juga: [Celoteh] Mereka Ini Juga Ada di Balik Buku yang Kamu Baca

Nah, semuanya kembali ke tangan penulis masing-masing. Mau bersikap bagaimana di era digital--yang merupakan sebuah keniscayaan. Mau menerapkan langkah semacam apa untuk tetap berkarya dan ditemukan oleh pembaca dan industrinya. Mau diam saja atau mau memanfaatkan peluang.



Peluang menulis novel di Cabaca kembali terbuka. Tunggu challenge terbarunya!





*) Diskusi dan talkshow kemarin juga bisa didengarkan dari saluran Podcastnya Mas Cahyo di sini ya. 

0 Komentar