Awal-awal saya merasa ada yang aneh dengan diriku saat memasuki Ramadan. Jangan salah, saya tetap menyambutnya. Bulan suci ini cuma ada setahun sekali, itu pun harus dibuka dengan adegan melihat hilal—yang tiap tahun memicu perdebatan NU-Muhammadiyah. Karena itulah, segala ritual yang ada di dalamnya jadi istimewa: beli takjil, pergi tarawih, sahur keliling, sampai beli baju lebaran.
Namun kenyataannya, di sinilah saya sekarang. Menghabiskan waktu istirahat siang di bulan puasa dengan duduk di dalam toilet, dalam keadaan mata memburam menjurus basah. Menghisap asap vape dari seorang kawan yang ngakunya puasa tapi tak tahan godaan nyebat. Masih beruntung jika sore hari tidak hujan lebat. Jika demikian, saya harus menguatkan diri menghadapi antrean panjang bus atau berjejalan dalam KRL, dengan kondisi setengah basah. Saya tidak berburu takjil bukan karena saya tak mau, tapi karena azan magrib hanya penanda bagi saya bahwa sesaat lagi, jalanan merayap ini akan mereda. Saya seperti disorientasi waktu.
Boro-boro pergi salat tarawih, sesampainya di rumah saja, saya sering baru salat Magrib secepat kilat. Saya baru "makan dengan benar" saat semua orang sedang berduyun-duyun ke masjid untuk Tarawih. Atau, saya mungkin akan salat Tarawih nanti agak malam sekalian mengaji. Tentu saja kalau tidak kalah dengan hasrat akan dopamin instan berupa scrolling media sosial yang belum sempat saya buka hari ini.
Setelah saya pikir-pikir lagi, bukannya hidup saya tiap hari begini? Mengapa membuat kesan momen Ramadan jadi hampa, padahal memang kehidupan dewasalah yang memisahkan diri saya dari makna? Bukan Ramadannya yang berbeda, melainkan sayalah yang kehilangan excitement dalam hidup.
Saya teringat satu kalimat dalam buku The Burnout Society yang ditulis oleh Byung-chul Han. Ia menulis, "Life has never been as fleeting as it is today. Not just human life, but the world in general is becoming radically fleeting."
Dari filsuf asal Korea itu, saya belajar bahwa fenomena "hilangnya iman" di zaman modern bahkan kadang tidak ada kaitannya dengan relasi antara kita dan Tuhan atau kehidupan setelah kematian. Perasaan hilangnya iman ini lebih karena realitas di sekitar kita yang bergerak cepat. Kita sulit sekali berhenti, beristirahat, untuk sekadar memaknai.
Kurangnya kehidupan kontemplatif ini membuat kita terjebak dalam kegelisahan dan ketidaknyamanan. Kita semua berubah menjadi masyarakat yang burnout, yang hanya bekerja dari waktu ke waktu demi mengejar achievement. Inilah kenyataan yang harus dialami manusia dewasa.
Berbeda sekali dengan kehidupan semasa kecil. Bisa dibilang, hampir tidak ada yang kita kejar. Pun jika mengejar rangking satu, itu pun karena sistem sekolah yang diatur sedemikian rupa, ditambah desakan orang tua yang khawatirnya tidak kira-kira. Selebihnya, anak kecil itu hidup dengan cara yang eksploratif. Barangkali tidak sampai memikirkan makna, tetapi bisa lebih sadar menghayati apa-apa yang terjadi hari itu juga. Suka dirasakan sebagai sukacita, duka betul-betul dirasakan sebagaimana duka.
Efeknya, kita bisa ingat semua kenangan tentang Ramadan. Ikut keliling kampung untuk membangunkan orang saat sahur. Puasa setengah hari saat tidak sanggup, tetapi puasa sampai Magrib jika diiming-imingi hadiah. Ambil jajanan takjil di masjid. Pergi buka bersama atau ikut pesantren kilat. Injak mukena jamaah di sebelah saat Tarawih. Kegirangan saat mendapatkan baju baru. Atau, rasa kesal saat harus membersihkan seisi rumah jelang lebaran.
Jadi, bukan Ramadannya yang berubah. Ia tetap sama, dari dulu hingga kiamat nanti. Kitalah yang berubah. Sistem dalam masyarakat juga akan selalu dinamis. Kita barangkali akan selalu merasa hampa karena kelelahan tak berkesudahan—efek dari terus-menerus mengejar "lebih baik", "lebih kaya", atau "lebih sukses".
Mungkin kalau kebetulan sekarang di sekitar saya ada yang lebih muda dari saya dan masih sekolah, saya akan bilang kepadanya untuk menikmati segalanya, termasuk Ramadan, selagi bisa. Ia akan menjadi makna terbaik saat kita semua kelelahan menjalani kehidupan orang dewasa.

0 Komentar