Sepertinya Kita Tidak Harus Gila Bekerja: Refleksi Tentang Fenomena Prilly Latuconsina




Baru-baru ini publik digemparkan oleh tindakan Prilly Latuconsina yang memasang badge Open to Work” pada laman LinkedIn-nya. Tak hanya memakai badge, ia juga membuat unggahan yang menjabarkan keinginannya untuk keluar dari zona nyaman. Ia tertantang untuk mencoba hal baru, yakni offline sales experience, yang memungkinkannya bisa bertemu orang langsung, berbincang, hingga akhirnya sebuah produk yang dijualnya bisa diterima.


Awalnya, banyak orang mengapresiasi keinginan Prilly tersebut sampai akhirnya muncullah semacam undangan dari sebuah merek pasta gigi. Rupanya yang dilakukan Prilly adalah bagian dari marketing campaign. Ekspektasi warganet pun terpatahkan. Tidak hanya itu, hujatan pun mulai bermunculan sampai Prilly akhirnya membuat klarifikasi.


Dari dulu sampai sekarang, apalagi in this economy, mungkin betul kita bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kita bertahan dari tanggal gajian bulan ini ke tanggal gajian bulan berikutnya.


Meski terkesan ujug-ujug, sebenarnya hal yang dilakukan Prilly hanyalah salah satu dari sekian banyak hal yang dilakukan oleh manusia modern yang telah sepenuhnya ditelan oleh status profesionalnya. Simone Stolzoff, dalam bukunya The Good Enough Job, menyebutnya dengan "workism". Artinya, di era modern, kerja bukan lagi sekadar alat untuk mencari nafkah, melainkan identitas utama atau "agama baru”.


Tak dapat dipungkiri, banyak dari kita yang menilai diri sendiri dan seseorang dari profesi dan pekerjaan. Bahkan saat ditanya atau diminta menjelaskan diri sendiri, kita sering menjawabnya dengan “Aku seorang engineer.” atau “Aku bekerja di industri hiburan.” alih-alih hanya menyebutkan nama atau identitas lainnya.


Tindakan Prilly memakai lencana “Open to Work” juga menunjukkan betapa kuatnya simbol-simbol ketenagakerjaan dalam menarik perhatian kita. Status profesional seolah-olah menjadi satu-satunya cara untuk dilihat.


Akibatnya, tanpa sadar kita—tak hanya Prilly—terobsesi dengan status "pekerja" sehingga label "mencari kerja" tadi pun dianggap sebagai attention currency yang sangat berharga. Kita terjebak dalam “workism” di mana identitas pribadi seseorang sepenuhnya menyatu dengan pasar tenaga kerja. 


Saat sudah bekerja pun, pandangan “workism” ini tidak luntur. Seperti Prilly yang sudah punya usaha kapal pesiar pun, masih ingin menjajaki identitas yang lain. Tak usah malu untuk mengakui, kita yang mungkin sudah punya pekerjaan saat ini, juga mencari-cari kesempatan lain, entah mau jadi PNS, karyawan BUMN, atau pekerjaan “bermakna” lainnya.


Tak hanya itu, kita perlu menyadari bahwa hal ini bisa jadi puncak dari eksploitasi diri di era digital. Seperti yang kita semua tahu, Prilly tidak perlu "bekerja" dalam arti konvensional, tapi ia merasa harus terus-menerus belajar hal baru dan punya "performa". Bukan cuma merek pasta gigi tersebut yang mengeksploitasi Prilly, melainkan dirinya sendiri. 


Pada akhirnya, kita harus mulai belajar untuk menemukan “the good enough job”. Tidak harus menjadi gila bekerja. Bukan sekadar memberi 30 ribu peluang yang diterima Prilly kepada yang membutuhkan, melainkan sekadar menerapkan batasan antara ruang personal yang meminta growth, perjuangan hidup banyak orang, dan kepentingan korporasi. 


Dan lagi, bukankah meski kita berani melepaskan atribut-atribut kerja, hidup juga tetap bermakna?


Baca Juga: Why are We so Afraid of Taking a Long Break?

0 Komentar